Langsung ke konten utama

Postingan

Lukisan Terakhir.

Langit mulai menggelap. Bulan sudah bersiap menggantikan matahari. Jalanan kota mulai dipadati oleh kendaraan-kendaraan yang baru saja keluar dari gedung-gedung tinggi disana. Di sisi lain, Shala, seorang gadis berumur 15 tahun itu terlihat terburu-buru. Ia meninggalkan tempat lesnya dengan cepat tanpa memikirkan apa pun. Dia hanya harus pulang sebelum azan Maghrib berkumandang. "La! Buku kamu ketinggalan!"  "Besok aja, Na!"  Nala menggeleng-gelengkan kepalanya, sudah paham dengan apa yang terjadi. Shala pun pergi begitu saja tanpa menoleh kebelakang lagi.  ***** Azan maghrib baru saja berkumandang. Shala membuka pintu rumahnya dengan hati-hati, sangat hati-hati. Ia tak mau menimbulkan kegaduhan lagi seperti beberapa hari yang lalu. Usahanya sia-sia, ia membuka pintu dan mendapati ayahnya sedang duduk di kursi dengan tatapan tajam. Shala tak terkejut lagi, ia sudah menebak apa yang akan terjadi.   "Kenapa baru pulang?" ucap ayah singkat. "Maaf, yah. ...
Postingan terbaru

Ayah.

Pahlawan, kata yang terdengar tidak asing ditelinga kita. Mungkin pahlawan yang kita tau adalah mereka yang berperang melawan penjajah, mereka yang berjuang demi negara. Mereka yang selalu diceritakan dalam pelajaran sejarah. Pahlawan yang namanya banyak dijadikan untuk nama sebuah gedung/jalan besar, pahlawan yang banyak museum menceritakan tentang beliau.  Tapi, menurutku, pahlawan itu bukan hanya mereka. Ada banyak orang yang berjuang demi keluarga, demi masa depan orang lain. Mereka yang berjuang tanpa berharap sebuah imbalan, tanpa sebuah tanda jasa.  Seperti ... Ayah. ***** Layar menunjukkan berita tentang virus yang muncul beberapa minggu yang lalu. Awalnya virus itu hanya ada di satu negara, tapi, entah dengan cara apa virus itu masuk ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Ayahku adalah seorang dokter anak. Aku pikir, ia tidak akan dipanggil untuk bertugas saat virus ini datang ke Indonesia. Ternyata aku salah, ia justru dipanggil bertugas untuk menangani pasien anak-...

Mimpi kita.

"Vlora!" teriak Anara, "Jangan cepet-cepet larinya, capek tau."  Vlora berhenti berlari, ia membungkukkan badan, dan memegang lutut sebagai tumpuannya, ia menetralkan napasnya yang tersengal-sengal. Tak lama Anara datang, "Beli minum yuk, haus nih" ucap Anara dan Vlora mengangguk setuju. Mereka membeli sebotol es teh, dan duduk di bawah pohon mangga. Vlora menoleh ke Anara, merasa diperhatikan oleh sahabatnya, Anara pun menoleh. Tiba-tiba mereka malah tertawa dan teh yang berada di mulut mereka tersembur seperti air mancur. 30 menit berlalu .... "Pulang, yuk! Sudah sore ini ... Besok kan, sekolah," Ajak Vlora Di perjalanan pulang mereka melihat dua anak laki-laki yang sedang balapan sepeda, tiba-tiba salah satu dari mereka melindas sebuah batu yang membuat sepeda tidak terkendali dan nyaris masuk selokan. Anara menutup mulutnya dan mereka tertawa bersama tanpa suara. Lima menit kemudian mereka sampai di rumah mereka yang saling berhadapan. "...

Takdir.

 Bel berbunyi, membuat siswa dan siswi smp cahaya bintang bersorak gembira. Sepasang sahabat meninggalkan kelas dan berjalan bersama meninggalkan kelas menuju rumah masing-masing. Di perjalanan, tiba-tiba Aura bertanya "Na, emang aku sejelek itu ya?" Pertanyaan itu membuat dahi Viona mengkerut. Ia tampak sedang berpikir, lalu bertanya kembali "Kok tiba-tiba nanya gitu?"  Aura memutar bola matanya malas. Dia tidak menjawab dan hanya memaksa Viona untuk menjawab pertanyaannya itu dengan sejujur-jujurnya. "Cantik kok" ucap Viona santai "Jawab yang bener, jangan bohong" Aura tidak percaya dengan kata-kata sahabatnya Viona meyakinkan bahwa jawabannya tadi adalah kenyataan. Tapi Aura membantahnya, dia masih tidak percaya. "Kamu kenapa sih?, semua perempuan cantik dengan gayanya masing-masing Ra"  Viona sebenarnya tau apa alasan Aura menanyakan hal itu. Jadi, dia menepuk pelan pundak sahabatnya dan tersenyum. Setelah itu tidak ada percakapan l...